Investasi Tambang

oleh:

Taruna Fadillah

HMT09039/ Mahasiswa Teknik Pertambangan

Institut Teknologi Bandung

 

Mineral dan batubara yang berada di wilayah negara Indonesia merupakan kekayaan sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai peranan penting dalam memenuhi hajat hidup orang banyak. Karena itu pengelolaanya harus dikuasai oleh Negara untuk memberi nilai tambah secara nyata bagi perekonomian nasional dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkeadilan[1].

Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnia, pengankutan dan penjualan, serta kegiatan pasca tambang[2].

Sedankan investasi adalah suatu istilah dengan beberapa pengertian yang berhubungan dengan keuangan dan ekonomi. Istilah tersebut berkaitan dengan akumulasi suatu bentuk aktiva dengan suatu harapan mendapatkan keuntungan dimasa depan. Terkadang, investasi disebut juga sebagai penanaman modal[3].

Investasi tambang adalah kegiatan penanaman modal untuk kegiatan pertambangan. Investasi tambang membutuhkan modal yang luar biasa besarnya. Tidak cukup dengan 1 triliun rupiah. Oleh karena itu, investasi tambang harus dilakukan secara cermat dan teliti. Kita tidak ingin kehilangan uang sedikitpun untuk kerusakan. Uang yang keluar berarti mineral atau data didapat.

Investasi Tambang di Indonesia

A.     Kondisi Investasi Tambang di Indonesia Beberapa Tahun Terakhir

Dalam UU No 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan batubara menyebutkan, pemegang IUP dan IUPK wajib meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dan atau batubara dalam pelaksanaan penambangan, pengolahan dan pemurnia serta pemanfaatan mineral dan batubara[4]. Nilai tambah yang dimaksudkan untuk meningkatkan produk akhir dari usaha pertambangan terhadap mineral ikutan.

Dalam UU itu juga mengamanatkan pemegang kotrak karya yang sudah berproduksi wajib melakukan pemurnia selambat-lambatnya 5 tahun sejak UU ini di resmikan. Artinya, pada 2014 seluruh perusahaan tambang sudah tidak diperbolehkan ekspor barang tambang mentah[5].

Dalam artian ini pemerintah akan mendorong terjadinya investasi perusahaan tambang yang mengarah kepada industri metalurgi seperti smelter. Hal ini sangat mungkin dikarenakan perusahaan seperti smleter sangat kurang di Indonesia. Perusahan-perusahaan besar di Indonesia adalah Krakatau Steel di Jawa Barat dan PT. Smelter di Surabaya. Untuk menarik investasi tersebut, pemerintah akan memberlakukan kebijakan khusus seperti fasilitas insentif fiskal, seperti  bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP).

Untuk meningkatkan investasi tambang nasional, pemerintah berinisiatif untuk mengadopsi Inisiatif Transparansi Industri Ekstraktif (extractive Industry Transparency Initiative/EITI)[6]. Menurut pemerintah, adanya transparansi akan secara otomatis meningkatkan iklim investasi. Perusahaan-perusahaan akan menganggap Indonesia sebagai tempat yang paling baik untuk investasi karena sudah transparan.

Dalam hal batubara, ekspor mengalam kenaikan, dikarenakan harga batubara yang naik. Selain itu, permintaan dari India dan jepang yang semakin banyak, serta pentupan keran ekspor batubara china membuat batubara Indonesia tidak tersaingi. Ditambah masalah banjir yang melanda australia, membuat batubara di Indonesia melambung tinggi dan disegani oleh dunia.

Ditinjau dari sisi sektoral dalam laporan Neraca Pembayaran Indonesia, sektor pertambangan, industri manufaktur dan perdagangan menjadi penyumbang utama arus modal[7]. Hal ini dikarenakan harga komoditas migas yang naik, dan ini menjadi insentif bagi investor untuk berinvestasi di dunia pertambangan.

B.      Investasi Dalam Tambang Rakyat

Dalam hal pertambangan rakyat, investasi masih sepi dirasakan, ini terbukti dari pengolahan pasir besi di beberapa daerah yang tergolong sepi, warga disana hanya meambang dengan modal mereka sendiri, seandainya pihak swasta memberikan modala tau menanamkan modal dalam usaha ini, diperkirakan keuntungan akan mencapai berkali-kali lipat[8].

Masalah investasi ini juga cukup sepi karena masalah yang akan muncul dari lingkungan. Menurut penulis, kebanyakan dari tambang rakyat apabila berakhir akan menghasilkan kerusakan lingkungan. Hal ini dikarenakan para penambang rakyat hanya melakukan reklamasi sebisanya dan dikarenakan modal yang ada sangat sedikit. Selain itu, data yang kurang jelas tentang sumberdaya maupun cadangan, akan menghambat ketertarikan investor.

C.      Permasalahan Investasi Tambang di Indonesia

Dalam penerapan UU no 4 tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara yang kurang jelas dan tergesa-gesa, membuat banyak perusahaan yang was-was atau malah tidak jadi berinvestasi di Indonesia, ini dikarenakan peraturan pemerintah untuk memperjelas UU itu tidak kunjung datang, membuat pengusaha-pengusaha tidak berani langsung berinvestasi di Indonesia. Mereka menunggu keadaan stabil terlebih dahulu[9]. Serta mereka melihat perkembangan undang-undang yang baru dicanangkan tersebut.

Hal itu juga dirasakan oleh direktur eksekutif Indonesian Mining Association (IMA), Priyo Pribadi Soemarno. Ia pesimistis rencana kehadiran Peraturan Presiden (Perpres) yang akan mengatur kegiatan usaha tambang bawah tanah di kawasan kehutanan bisa mendongkrak investasi. Kehadiran Perpres tambang tanah di kawasan kehutanan belum tentu bisa memancing tumbuh suburnya investasi. Pasalnya, pemerintah belum juga menentukan poin utama yang bisa mendukung berkembangnya iklim investasi tambang di Indonesia[10].

Adapun nilai investasi tambang yang mau masuk hingga 2013 yang sekitar US$11 miliar terdiri dari beberapa investor antara lain Mearrest Soputan, Dairy Prima, Sorikmas, Riotinto, BHP Maruwai, Weda Bay, Sumatra Gold, Newmont Elang Dodo, Inco Karebbe, serta beberapa proyek pengembangan seperti Freeport, Antam, dan Kobatin. Jika situasi seperti ini dibiarkan berlarut-larut maka kerugian tidak hanya ditanggung dari sisi investor, akan tetapi pemerintah juga mendapat kerugian dari hilangnya kesempatan mendapatkan pemasukan seperti dari pajak pertambangan.

Selain itu, tidak semua perusahaan membuka atau tranparansi perusahaan tersebut. Ini dirasakan oleh warga di wilayah Tablasupa Distrik Depapre Kabupaten jayapura.Di wilayah ini terdapa perusahaan yang melakukan eksplorasi, namun mereka tidak tahu menahu tentang ini. Yang membuat mereka marah, adalah mereka merusak tanh adat pada wilayah mereka. Ketidak terbukaan inilah yang menyebabkab investasi ini berlangsung sulit, walaupun masih ada perusahaan yang terbuka dengan masyarakat sekitar[11].

Berkaitan dengan data, pemerintah belum memberikan data yang menarik dan potensial sebagai cadangan mineral maupun batubara, hal ini yang menyebabkan para investor harus merogoh kantong lebih dalam. Karena proses penambangan dilakukan dari awal, tanpa data yang bisa dipertanggung jawabkan.

D.     Kesimpulan

Menurut penulis, investasi di Indonesia tidak akan berjalan lancar tanpa 3 hal yaitu dukungan dari pemerintah, kepastian hukum yang jelas dan dukungan dari masyarakat sekitar. Tiga hal ini yang menjadi faktor besar investasi di Indonesia. Jika ada salah satu yang bermasalah, maka mungkin saja investasi akan dicabut atau dibatalkan.

Selain itu aturan yang berlaku dari pemerintah harus jelas dan harus bersahabat dengan investor. Insentif-insentif pemerintah terhadap investor seperti pengurangan bea masuk dan sebagainya. Harus dilkaukan pemerintah agar tambang dapat menarik investor. Promosi lahan yang potensial harus digencarkan oleh pemerintah, agar investor mau mendirikan perusahaan tambang di tempat tersebut.

 

Investasi Tambang di Dunia

Keadaan ekonomi dunia sekarang sedang lesu, terjadinya kenaikan harga minyak hingga mencapai lebih dari 100 US dolar perbarel membaut negara-negara di eropa jatuh bangun menghadapinya. Keadaan Yunani menjadi chaos ketika pemerintah mengurangi subsidi bagi pegawai negeri. Keadaan eropa yang belum stabil membuat negara seperti Jerman, Prancis dan Spanyol goyah. Kondisi ekonomi mereka menjadi kurang stabil karena keadaan itu.

Amerika Serikat, negara super power ini mulai kehilangan kendali atas ekonominya. Hutang amerika melebihi batas normal, sehingga membuat mereka menunda pagu utang negar mereka untuk menyelamatkan keuangan merka.

Beda halnya antara eropa dan amerika. Di bagian timur dari asia dan bagian utara afrika. Negara Mesir bergejolak dikarenakan rakyatnya yang tidak mau dipimpin oleh kepala negara yang ditaktor. Peristiwa itu membuat pasokan minyak berhenti dan membuat langka minyak. Bila minyak langka maka yang terjadi adalah naiknya harga minyak. Disebelah Mesir terdapat negara Libya yang sama-sama bergejolak, sehingga menyabakan harga minyak melonjak dengan tajam.

Kebijkan China untuk menutup keran ekspor batubara, membuat para importir batubara kebingunan. Indonesia dan Australia yang selama ini memasok  batu bara untuk dunia kerepeotan karena perminatan batuabara yang sanagat banya. India dan Jepang membutuhkan batubara berkali-kali lipat karena pembanguna industri di wilayah mereka.

Bencana nuklir fukushima Jepang membuat orang di dunia yang dahulu percaya nuklir akan menjadi sumber energi dunia mulai luntur. Mereka mulai memindahkan sumber energi ke energi yang lebih ramah lingkungan.

Semakin berubahnya kondisi lingkungan dunia membuat gerakan-gerakan hijau semakin digemari. Mereka mencari solusi-solusi dari permasalahan tentang keadaan ini, tentu saj mereka akan menganggarkan atau berinvestasi lebih untuk hal yang dapat menyelematkan dunia lebih baik. Atau stidaknya yang membuat mereka dapat hidup lebih lama.

Pada negara berkembang dan miskin, kondisi yang paling menonjol adalah belum terciptanya kondisi yang mendorong pada iklim dimana kegairahan untuk menabung dan penanaman modal menunjukan tingkat yang menggembirakan. Sistem produksi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat masih menggunakan pola tradisional. Masih terbatasnya sektor modern dan belum berfungsinya secara efektif dan efisien institusi-institusi keuangan yang disebabkan oleh pola pikir masyarakat yang masih tradisional menyebabkan pengerahan dana dari masyarakat mengalami kesulitan.[12]

Melemahnya kurs dollar AS biasanya mempengaruhi investasi dunia, terlebih dalam bidang investasi emas. Hal ini karena jatuhnya nilai mata uang dollar membuat harga emas menjadi lebih murah dalam mata uang lain sehingga umumnya mendorong adanya kenaikan permintaan emas, terutama dari sektor industri perhiasan. Di Indonesia, pada pertengahan tahun 2001, ketika mata uang rupiah mengalami penguatan yang cukup signifikan, harga emas logam mulia (LM) pun menurun. Demikian pula ketika rupiah melemah, harga emas LM pun meningkat.

Di awal tahun 2003, perbedaan kurs USD/IDR (dollar AS terhadap rupiah) dengan harga emas LM semakin melebar karena di samping harga emas di pasaran dunia tinggi, nilai dollar AS pun melemah[13]. Ketika tingkat suku bunga naik, ada usaha yang besar untuk tetap menyimpan uang pada deposito ketimbang emas yang tidak menghasilkan bunga (non interest-bearing). Ini akan menimbulkan tekanan pada harga emas. Sebaliknya, ketika suku bunga turun, harga emas akan cenderung naik.

Daftar Pustaka

  1. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi investasi swasta di Indonesia. R
  2. Neraca Pembayaran Indonesia, realisasi triwulan I, tahun 2011
  3. UU No 4 tahun 2009, Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara
  4. UU No 4 tahun 2009, Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara pasal 102
  5. UUD 1945, Pasal 33 ayat 3
  6. http://bisnis-jabar.com/index.php/2010/12/investasi-tambang-pasir-besi-di-sukabumi/
  7. http://economy.okezone.com/read/2011/06/20/320/470551/ri-ajak-jepang-investasi-tambang
  8. http://finance.detik.com/read/2010/01/26/170105/1286503/4/investasi-tambang-us–10-m-batal-masuk-ri-gara-gara-hukum
  9. http://finance.detik.com/read/2010/01/26/170105/1286503/4/investasi-tambang-us–10-m-batal-masuk-ri-gara-gara-hukum
  10. http://hargaharga.wordpress.com/2010/03/08/faktor-yang-mempengaruhi-naik-turunnya-harga-emas/
  11. http://id.wikipedia.org/wiki/Investasi acces at august, 14 2011. 11:33PM
  12. http://www.aldepe.com/2011/06/belum-ada-transparansi-dalam-proses.html
  13. http://www.isuenergi.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1024:transparansi-tingkatkan-kualitas-iklim-investasi-tambang&catid=48:isu-terkini&Itemid=53
  14. http://www.pwyp-indonesia.or.id/berita/perpres-tambang-belum-bisa-dorong-investasi/


[1] UUD 1945, Pasal 33 ayat 3

[2] UU No 4 tahun 2009, Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara

[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Investasi acces at august, 14 2011. 11:33PM

[4] UU No 4 tahun 2009, Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara pasal 102

[7] Neraca Pembayaran Indonesia, realisasi triwulan I, tahun 2011

[12] Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi investasi swasta di Indonesia. r

About akutaruna


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: