Ketika Masa Depan Tambang Menjadi Suram

Sudah tidak asing lagi bagi telinga kita dan berita-berita di koran-koran, internet atau media informasi lainnya, bahwa industri tambang mulai lesu. Kewajiban untuk mengolah barang tambang sesuai nilai yang disyaratkan dan turunnya harga batubara membuat lesu industri tambang. Tambang mineral dan tambang batubara mulai menyimpan produksinya, memperkecil produksinya atau bahkan ada yang menutup tambangnya.

Penyebab lesunya tambang

Krisis eropa adalah biang utamanya. Bagaimana tidak, semua industri kreatif berpusat di sana, krisis eropa menyebabkan pasokan bahan-bahan baku menjadi berkurang, apabila itu berkurang maka produksinya juga ikut dikurangi. Pemasok Industri itu adalah China, Jepang, Korea Selatan dan China. Negara-negara tersebut batubaranya berasal dari Indonesia, atau negara-negara itu tujuan ekspor batubara kita. Ekonomi Eropa lesu, berdampak pada ekonomi dunia.

Adanya eksplorasi dan eksploitasi shale gas di Amerika juga membuat pasar batubara berkurang. Shale gas di Amerika telah dimanfaatkan sekitar 30% untuk kebutuhan pembangkit listrik mereka, yang harganya, katanya lebih murah dari batubara.

Dampak peristiwa tersebut

Laba industri semakin kecil. Yang paling terkena dampak adalah perusahaan yang menjual  batubara kalori menengah (5.600-5.800 kcal/kg) dan rendah (5.500 kcal/kg) kebawah, biaya produksinya sama dengan kalori tinggi.

Industri yang berkaitan dengan tambang merasakan musim kemarau mereka. Hal ini dirasakan seperti industri supplier alat berat. Jika tambang mengurangi produksi mereka atau menutup produksi mereka, tentu itu akan berkibat stagnya produksi alat berat. Selain itu, industri penyokong industri tambang juga pasti akan terkena imbasnya.

Dampak ini berlaku global, artinya keadaan ini terjadi di semua negara berkembang yang masih mengandalkan ekspor SDA nya untuk devisa ekonomi mereka. Australia, Colombia, China, dan India juga terkena dampaknya. Ketergantungan dengan negara-negara asing ini yang akan menyebabkan ekonomi negara berkembang ini goyah.

Dampak ini tidak terjadi di batubara saja, tambang mineral logam juga iya. Selain karena UU no 7 tahun 2012, kebutuhan akan logam juga berkurang. Pembangunan gedung-gedung seakan stagnan karena dampak krisis eropa dan tidak kunjung membaiknya ekonomi amerika.

Pemikiran Solusi

Alternatif solusi adalah dengan menambang mineral tanah jarang, yang digunakan untuk elektronik (walau industri lain turun, industri elektronik tetap naik) atau berpindah ke mineral bukan logam (industri). Mineral bukan logam di Indonesia kebanyakan masih impor. Seharusnya kita bias mencukupi kebutuhan industri dalam negeri  dengan mineral yang kita punya, namun karena selalu dikesampingkan, tambang mineral industri seakan tidak mendapat perhatian.

Solusi yang terpikirkan memang menjaga agar batubara yang diekspor jangan terlalu banyak. Manfaatkan  untuk disimpan (tabungan masa mendatang), karena hargabatubara sekarang masih rendah. Selain itu, kita harus mempunyai resource-resource energi lain, misalkan dari PLTA, mikrohidro atau dari biomassa. Yang tentunya harga produksinya bisa seimbang dengan batubara namun yang dihasilkan tetap sama atau bahkan lebih baik.

Semoga harga batubara dan mineral naik dan industri tambang menjadi lebih baik serta makin bergeliat…

Taruna Fadillah

Kadiv keprofesian HMT-ITB

 

Majalah Tambang, volume 7 no 87/September 2012

http://www.indexmundi.com/commodities/?commodity=coal-australian

About akutaruna


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: