Semangat Menulis!!!

Mari menulis.. biar tersebar ide-ide kita…

Jakarta Harus Membayar Kawasan Puncak

Banjir yang melanda di Jakarta ini hampir melumpuhkan aktivitas ibu kota. Banyak perkantoran dan pertokoan yang tutup karena khawatir dengan keselamatan dari karyawannya atau kebanjirannya lokasi aktivitas mereka. Bahkan ada sekolah dan universitas yang diliburkan karena ruangan belajarnya terendam oleh air.

Bila kita cari akar penyebab masalahnya, banjir di Jakarta diakibatkan oleh gaya hidup dari penduduk setempat. Buang sampah sembarangan, membiarkan got atau parit tertutup serta yang  lebih parah lagi adalah berkurangnya zona resapan air. Akibatnya volume air yang masuk ke kota Jakarta tidak bisa disalurkan langsung menuju hilir atau menuju laut.

Zona resapan berfungsi untuk menyerap air agar dapat masuk ke dalam tanah dan disimpan menjadi air tanah. Hilangnya zona resapan, berakibat pada banyaknya air limpasan atau permukaan yang ada. Hilangnya zona resapan ini, tidak hanya terjadi di Jakarta, melainkan di daerah puncak juga mengalami hal yang sama. Pembangunan rumah dan vila yang ada di daerah puncak yang merupakan zona resapan, membuat air yang permukaan (limpasan) yang menuju Jakarta akan semakin banyak. Oleh karena itu, debit-debit air di sungai semakin besar. Bila bendungan tidak bisa mengatur debit tersebut, maka Jakarta akan Banjir.

Masalah menjaga kawasan Puncak merupakan masalah ekonomi dan sosial. Penduduk Puncak membutuhkan uang untuk hidup. Penduduk puncak menjual kebun teh mereka untuk dijadikan vila, mereka menjual sawah mereka untuk dijadikan toko. Siapa yang membeli? Kebanyakan orang Jakarta.

Dari masalah ini, kita perlu belajar dari Singapura. Singapura membayar penduduk Johor (Malaysia) untuk menjaga kelestarian dari wilayahnya, agar mereka dapat menerima air dari mereka. Seharusnya, penduduk Jakarta berupaya membayar penduduk Puncak agar mereka mau menjaga tanah dan tidak menjual tanah. Agar tanah tersebut, dapat menjadi resapan dari air hujan.

Mari berhitung kasar, bila penduduk yang mempunyai tanah di kawasan puncak sekitar 10.000 orang dan Penduduk Jakarta 9.000.000 (Pembulatan pada data Badan Pusat Statistik). Bila setiap bulan, warga Jakarta diwajibkan membayar 10 ribu, maka terkumpul uang sebesar 90 milyar. Bila uang tersebut dibagikan pada 10 ribu orang, maka setiap orang akan mendapat 9 juta tiap bulannya dari menjaga tanah mereka. Belum jika tanah tersebut digunakan untuk berkebun, tentu akan mendapat uang dari hasil kebun tersebut.

Tentunya, ini hanya hitung-hitungan kasar. Hanya menunjukan bahwa bisa bila kita mau berbuat untuk menjaga kelestarian alam di puncak. Kelestarian yang perlu di jaga tentu saja bukan hanya di puncak. Melancarkan sungai, membesarkan parit dan membersihkan gorong-gorong. Itu hal yang harus dilakukan. Yang lebih baik lagi adalah membuat sumur resapan di setiap bangunan, serta menambah daerah hijau (daerah resapan) agar air dapat meresap ke tanah. Jadi, mari kita jaga lingkungan, ubah gaya hidup kita, agar lingkungan tetap lestari dan alam tetap bersahabat dengan kita.

*Taruna Fadillah (Mahasiswa Teknik Ekplorasi Pertambangan, Institut Teknologi Bandung, Himpunan Mahasiswa Tambang)

 

http://satunegeri.com/jakarta-harus-membayar-kawasan-puncak.html

About akutaruna


2 responses to “Semangat Menulis!!!

  • AA

    mas taruna saya Anjar dari TL ITB.
    boleh minta tolong nggak?
    saya lagi mencari refrensi tentang peta kandungan bumi/tambang untuk daerah jatinangor, sumedang. kira-kira bisa saya dapatkan dimana ya?

    • akutaruna

      wah mas, kalo peta geologi saya ada. Itu peta tentang kondisi geologi daerah situ.

      Nah, kalo daerah sumedang dan jatinangor lebih rincinya bisa dilihat di website pemerintah kabupaten.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: