Pengelolaan Tambang Indonesia

Pengelolaan Tambang Indonesia

Lahir di bumi pertiwi Indonesia merupakan kenikmatan yang sungguh luar biasa. Di negeri beribu pulau ini, tersimpan banyak kekayaan yang sangat besar. Di muka Bumi terhampar tanah yang senantiasa subur sepanjang tahun, hutan yang begitu lebat dan tak terhitung kekayaan flora dan fauna. Di perut buminya, jutaan bahkan milyaran bahan tambang terkandung, baik yang sudah di eksplorasi, eksploitasi maupun yang belum tersentuh sama sekali..

Kegiatan pertambangan merupakan kombinasi dari eksplorasi (pencarian barang tambang), eksploitasi (pengambilan barang tambang), pemurnian dan kegiatan pasca pertambangan. Barang tambang merupakan kekayaan yang tidak dapat diperbarui. Kekayaan ini tersebar di pulau-pulau Indonesia dan seharusnya bisa menyejahterakan orang yang hidup di atasnya. Tidak dapat diperbarui karena barang tambang ini bila kita ambil terus-menerus, tidak akan kembali seperti semula atau akan habis. Dalam APBN, sektor pertambangan merupakan penyumbang devisa yang lumayan besar setiap tahunnya.

Kekayaan Tambang Bumi Indonesia

Batubara merupakan barang tambang yang sampai sekarang merupakan primadona sumber devisa Indonesia. Bagaimana tidak, Indonesia merupakan negara nomor satu terbesar pengekspor batubara di dunia mengalahkan Amerika Serikat, China dan India, dan hanya kalah dari Australia. Sebetulnya, keadaan ini membuat kita miris. Bila kita melihat dalam kacamata dunia, cadangan batubara Indonesia hanya sebesar 0.6% cadangan batubara dunia. Bagaimana mungkin, negara dengan potensi batubara yang hanya kurang sari satu persen ini, menjadi eksportir terbesar kedua di dunia.

Negara Cadangan (Mt) Produksi (Mt) Eksport (Mt)
China 62.200 2831
USA 108.501 849 34
India 56.100 509
Indonesia 1.520 373 309
Australia 37.100 199 144
Russia 49.088 178 110
Kazakhstan 21.500 98 33

Sumber: World Coal Index 2012, batubara berjenis steam coal.

Keresahan ini sungguh berarti. Bila kita tidak memikirkannya, maka 20 tahun lagi mungkin kita akan menjadi need importir batubara. Cadangan kita akan habis dan energi yang dibutuhkan negara ini tidak tahu dari mana suplainya.

Hamparan timah di pulau Bangka dan Belitung juga merupakan kekayaan yang tidak terhingga. Nikel di pulau Sulawesi juga tidak terhingga jumlahnya. Berkubik-kubik batubara di pulau Kalimantan, apalagi berton-ton pasir besi di pantai selatan Sumatera, Jawa dan Lombok belum termanfaatkan dengan benar. Semua barang itu memerlukan pengelolaan yang benar. Tanpa pengelolaan yang benar, bukan untung, tapi buntung yang kita dapat.

Kutukan Sumber Daya Alam

Kutukan sumberdaya alam merupakan akibat dari kita tidak dapat mengelola sumberdaya alam yang diberikan kita dengan baik, benar dan optimal. Sumberdaya alam ini seharusnya di konversi menjadi barang produksi. Hal ini diibaratkan seperti kita meminjam uang di bank, bila kita meminjam uang untuk modal produksi, seperti membangun pabrik, membuat toko, membuka usaha, tentu bank akan meminjami kita dengan senang hati. Namun bila kita meminjam uang di bank untuk sekedar beli baju, beli mobil yang tujuannya untuk konsumsi, sampai kapanpun kita tidak akan diberi pinjaman. Begitu juga sumberdaya alam, bila uang hasil dari penjualan untuk keperluan konsumsi dan bukan untuk produksi, tentu saja nilai manfaat dari sumberdaya alam itu akan menjadi sangat kecil.

Akan sangat lebih bermanfaat bila hasil dari penjualan barang-barang tambang didirikan pabrik atau industri-industri yang mampu menyerap lapangan kerja orang banyak. Alangkah baiknya bila pendidikan kita di subsidi dari untung barang tambang ini, tentu akan menjadi sangat murah dan akan membuat kualitas pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. Barang tambang merupakan investasi kita, bila kita habiskan maka semakin kurang modal kita untuk membangun bangsa.

Masalah Lingkungan yang semakin nyata

Kita tidak bisa menutup mata, tambang memang akan merusak atau minimal mengubah rona lingkungan awal. Kerusakan lingkungan akibat tambang, bisa dikatakan sepadan dengan hasil yang didapat dari perut bumi itu. Tapi, sampai kapan kita akan merusak lingkungan kita, dan hanya meraup keuntungan sebesar-besarnya dari barang tambang yang kita ambil?

Sungguh membingungkan, bila kita ingin menolak atau mengurangi tambang, berjuta konsekuensi yang harus kita terima. Bila kita menolak adanya tambang, mungkin kita tidak akan lagi mengenal handphone, karena 100% handphone, berasal dari barang tambang. Tidak ada laptop lagi untuk menulis, tidak ada lagi mobil untuk pergi ke suatu tempat, tidak ada jarum untuk menyuntik saat kita sakit dan tidak ada lagi baju untuk kita pakai.

Selandia Baru berkomitmen untuk mengurangi tambang di negara mereka. Mereka berhasil, karena mereka mampu membeli semua barang tambang dari luar negeri. Mereka menjadi need importir barang tambang. Pendapatan perkapita dan tingkat kesejahteraan manusia Selandia Baru jauh lebih tinggi daripada Indonesia. Begitu juga dengan negara-negara Eropa seperti Jerman dan Norwegia. Apakah kita siap seperti mereka? Tentu jawabannya tidak untuk sekarang, karena masih banyak dari teman-teman kita yang hanya mampu membeli makanan sehari sekali yang mana hal ini menunjukkan bahwa angka kemiskinan di Indonesia masih tinggi. Untuk saat ini, menyingkirkan tambang dalam hidup kita dirasa tidak mungkin.

Dari masalah itu, komitmen perusahaan tambang dan pemerintah terhadap lingkungan yang harus kita pegang. Komitmen untuk mengembalikan atau paling tidak membuat lingkungan menjadi lebih baik dari sebelumnya harus kita lakukan. Mengecilkan dampak terhadap lingkungan dan memberikan manfaat yang besar setelah ditinggalkan harus menjadi prinsip perusahaan tambang. Meminimalkan kerusakan lingkungan dan mengoptimalkan keuntungan merupakan hal yang harus kita lakukan.

Konservasi Sumber Daya Alam

Sumber daya alam tambang kita merupakan sumberdaya alam yang tidak dapat diperbarui. Jumlahnya pun semakin tahun akan semakin berkurang. Optimalisasi dari eksploitasi barang-barang tambang harus dilakukan. Sudah waktunya kita menggunakan alat-alat berteknologi tinggi dan ekonomis agar barang tambang dapat di ambil secara efisien. Izin usaha pertambangan pun harusnya bisa di ketat dalam pemberiannya, hanya perusahaan yang benar-benar berkomitmen yang bisa mendapatkannya.

Tidak hanya masalah eksploitasi barang tambang, masalah dari cara eksplorasi juga harus diperhatikan, ekplorasi barang tambang saat ini seharusnya sudah memperhatikan umur tambang dan akibat yang diberikan pada lingkunan. Penerapan Good Mining Practice atau praktek-praktek pertambangan yang baik dan benar harus mulai ditegakkan.

Stop Ekspor Bahan Mentah

Sudah waktunya kita tidak menjual tanah air (raw material) saja. Barang-barang tambang yang kita ambil akan mendapat manfaat yang lebih bila kita dapat mengolahnya di negara kita sendiri, selain menaikkan nilai tambah, hal itu akan membuka lapangan kerja yang besar untuk rakyat Indonesia. Tidak berlebihan memang pemerintah menerapkan UU no 7 dan 11 tahun 2012. Manfaat dari barang tambang harus kita manfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat kita.

Meski menemui beberapa hambatan, pengelolaan barang tambang menjadi bahan baku Industri bertahap harus kita lakukan. Industri-industri pemurnian logam berupaya didirikan dimana-mana. Sentralisasi pemurnian dan pembentukan perusahaan pertambangan untuk pemurnian bisa menjadi solusi untuk permasalahan ini. Daerah yang mempunyai primadona barang tambang, seperti Pulau Bangka dengan timah, Sulawesi dengan nikel, dapat secara regional mendirikan pusat-pusat pemurnian. Perusahaan pemurnian didirikan bersama dari beberapa perusahaan tambang.

Penambahan nilai jual mineral tentu saja akan kita dapatkan. Contohnya seperti ini, harga nikel mentah 2000 dollar AS per ton. Setelah jadi ferro nikel (bahan olahan nikel), harganya jadi 17.000 dollar AS per ton (London Metal Exchange). Meningkat pesat atau hampir sembilan kali lipat dari harga normal. Tentu saja keuntungannya akan lebih banyak lagi daripada kita hanya menjual raw material saja.

Pembinaan Sumber Daya Manusia yang Simultan

Kunci dari pengelolaan tambang yang benar adalah manusia itu sendiri. Semakin banyak pendidikan jurusan tambang yang dibuka dan semakin banyak peminatnya akan membuat semakin bagus tambang itu. Pendidikan yang berkualitas dan berkarakter untuk membentuk pola pikir dan mentalnya akan membuat pengelolaan tambang ini semakin bagus. Tak lain, ini semua ditunjukkan untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia

2014, masa sulit

Pada tahun ini, kebijakan pemerintah jatuh tempo atau deadline. Barang tambang tidak boleh diekspor secara mentah (UU no 4 tahun 2009), semuanya harus melewati pengolahan atau bahkan pemurnian. Pabrik smelter belum siap digunakan karena tidak adanya modal dan kebijakan yang kurang. Pada tahun ini juga, terjadi pemilu yang mungkin akan mengubah kebijakan. Pemberian izin secara asal-asalan mungkin akan terjadi, karena banyak eksekutif yang membutuhkan modal untuk menguasai kembali tahtanya.

Pengelolaan yang Komprehensive

Solusi lainnya adalah pengelolaan yang komprehensive untuk mengoptimalkan keuntungan. Komprehensive disini, diartikan sebagai pengelolaan secara terpadu. Nikel dan timah yang kita tambang, diolah di Indonesia menggunakan energi dari batubara Indonesia. Selain itu, didirikanlah pabrik-pabrik manufaktur mesin-mesin pesawat,mobil atau motor, agar kita tidak hanya jadi negeri perakit motor dan mobil terbesar. Tapi kita jadi pencipta mesin, body, sparepart dari kendaraan-kendaraan kita. Barang tambang kita akan menjadi bahan baku nasional. Yang dijualnya akan menjadi sangat tinggi dan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Tidak adanya blueprint atau roadmap pengelolaan mineral Indonesia, membuat pengelolaan mineral Indonesia tanpa arah yang jelas. Ekspor yang berlebihan, penambangan yang berlebihan tentu akan menjadikan pendapatan Indonesia di sektor ini semakin berkurang. Pasar harus kita pegang, karena kita termasuk negara dengan cadangan barang tambang yang besar. Tidak adanya kesadaran itu, membuat harga dari barang tambang menurun karena produksi yang berlebihan, seperti prinsik ekonomi supply yang berlebih dengan demand yang cenderung tetap, akan membuat harga menjadi turun.

Kesimpulan

Kita tidak boleh berhenti untuk berjuang memperbaiki diri kita. Kata seorang teman, menjadi orang Indonesia adalah menjadi manusia yang bersiap memperbaiki keadaan, tetapi bersiap pula untuk melihat bahwa perbaikan itu tidak akan pernah sempurna dan ikhtiar itu tidak pernah selesai. Kita harus bermimpi tinggi dan berusaha untuk mencapainya. Tak terbayang, bagaimana enaknya generasi besok tinggal menikmati jerih payah kita, seperti kita menikmati kemerdekaan yang sudah diperjuangkan generasi yang lalu. Berjuanglah demi bangsamu, berjuanglah demi negara, asal kita yakin, kita akan meraih mimpi kita!!!

Without mining, there is no civilization and What’s your is mined.

Taruna Fadillah

Mahasiswa Sarjana Program Studi Pertambangan

Kelompok Keahlian Eksplorasi Sumber Daya Bumi

Institut Teknologi Bandung

About akutaruna


One response to “Pengelolaan Tambang Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: