Kampus Pembentuk Watak dan Kepribadian

plaza widya

Kasus korupsi yang beberapa minggu lalu menimpa kampus ini menjadi sorotan utama dimana-mana. Sebagai penghuni dan warga kampus ini, ada baiknya kita saling intropeksi. Apa yang salah dari kampus ini, apa yang bisa diperbaiki. Saya masih yakin, kampus ini sedikit banyak akan membentuk watak dan kepribadian saya. Lewat kegiatan akademiknya atau kemahasiswaannya atau dari lingkungannya. Berikut ini ada pikiran dari saya yang sempat tertuliskan.

Nama Besar ITB, Harapan Perubahan Kemapanan

                  Anak ITB, pasti besok jadi orang kaya                    -Anonim

Sering terdengar kata-kata itu diucapkan oleh teman kita, atau keluarga kita. Saat kita sedang nongkrong saat kita sedang pertemuan keluarga. Harapan pribadi sendiri maupun harapan keluarga atau bahkan harapan masyarakat, orang yang berkuliah di ITB akan mengubah nasibnya. Harapan yang besar itu, akan membuat kita berpacu dan berusaha terus menerus untuk mengubah nasib kita. Bagi orang yang kuat prinsip hidupnya, mungkin akan tetap bertahan dengan idealismenya. Namun, bagi orang yang idealismenya  masih bisa digoyang (dan banyak orang seperti itu) tentu akan bisa mencari jalan-jalan pintas…

Nama besar memang tanggung jawab, namun apabila menganggap itu sebagai suatu beban besar dalam pikiran yang malah nantinya menyakiti jiwa itu yang salah. Hidup dalam tekanan untuk memperbaiki nasib namun tidak punya idealisme kuat, tentu akan sangat gampang di goyang, dan berbuat diluar norma. Mulailah dengan berfikir kaya (materi) itu bukan tujuan hidup, tujuan hidup adalah kebahagiaan lahir dan bathin yang tidak bisa diukur dengan kekayaan (materi) saja…

If u born poor it’s not ur mistake, but if u die poor it’s ur mistake…if there’s anybody says “its ok if i was poor at least im still happy”…its bullshit dude, nobody wants..so keep going..keep fighting..keep winning… (in Halal ways)

-Ismail Hm Sufrie-

Sekali Teman Tetap Teman

                 Sekali teman tetap teman…

                Angkatanmu adalah keluargamu…

                -Doktrin OSPEK-

Saat OSPEK, Kaderisasi Wilayah dan Ospek Jurusan atau apapun itu, pasti akan selalu ditekankan hal seperti itu. Himbauan, nasehat atau perintah untuk menjaga teman kita, membantu teman kita. Bahkan selalu disimulasikan dalam suatu acara, untuk kita mengorbankan diri sendiri untuk membantu teman yang sedang kekurangan. Saya setuju, kita harus mempunyai ikatan yang erat antar teman. Namun, ikatan yang erat antar teman itu, yang akan sangat bisa dimanfaatkan oleh orang untuk sedikit menggeser idealisme tersebut.

                  Manusia itu akan tergoda dengan 3 hal; uang, tahta dan wanita…

Ya itu pasti, semua akan mengakui bahwa 3 hal tersebut bisa disebut impian atau bahkan cita-cita yang selalu tertanam di hati. Mempunyai kekayaan, mempunyai istri cantik dan rupawan serta menjabat untuk mendapatkan kekuasaan semata. Tiga hal tersebut bisa memasuki ke diri kita, akan berupa apapun dan bermacam-macam metode. Namun, bila yang dipakai metodenya adalah pertemanan, kita akan sulit untuk menolaknya.

Pertemanan yang terlalu fanatik ini, tentu akan menjadi masalah di kedepannya. Akan bijak bila kita sedikit mengevaluasi metode dalam ospek, osjur kita atau bahkan himpunan atau unit kita. Agar, pertemanan yang fanatik tidak berimplikasi negatif.

Berani mengatakan tidak, berani mengatakan yang salah itu salah dan yang benar itu benar adalah sesuatu yang harus diajarkan.. Banyak dari kita yang akan menyanggupi permintaan teman atau sahabat, walaupun terkadang mengorbankan kepentingan pribadi.  

Kalahnya Akademisi dengan Premanisme

Masih banyaknya parkir mobil dan motor di depan gerbang ITB atau jalan ganesha, merupakan simbol akan kalahnya akademisi dengan premanisme. Ya… tentu saja, dan itu akan menjadi  kebiasaan kita dalam kehidupan sehari-hari. Kita akan rela membayar lebih mahal agar kita menjadi nyaman, kita akan mengenyampingkan peraturan agar hidup kita nyaman. Akhirnya kalahnya akademisi dengan premanisme itu akan terjadi. Seorang yang seharusnya menjaga agar nilai-nilai kebenaran itu ada, akan hilang begitu saja. Ya, selama jalan ganesha masih penuh dengan mobil mahasiswa, bisa saya katakan, ITB kalah dengan Preman. Itu saja!

Akhirnya, mari kita saling evaluasi diri, bukan saling mengecam atau bahkan saling membela. Bahwa kebenaran itu pasti ada, dan yang benar pasti benar, yang salah pasti salah. Bergerak dari langkah kecil dan sedini mungkin, karena kita (ITB) harapan masyarakat untuk membangun bangsa ini. Seorang dengan kemampuan besar, wajar kalau mempunyai tanggung jawab besar juga. Saya masih percaya, kampus ini akan membentuk watak dan kepribadian penghuninya. Saya masih yakin, kampus ini akan menghasilkan para pembangun dan pemersatu bangsa!!!

itb irwan

Bukan wajah yang cantik manis menarik bukan harta yang banyak

apalagi kalo cuma, hartanya babe, cuman duitnya babe

syukur kalo bukan, hasil korupsi

syukur kalo bukan, hasil manipulasi

tampilkan dirimu, banggakan dirimu dengan prestasi

jadikan dirimu yang penuh arti bagi kami yang kecil ini

-lihatlah kawan, OSD HMT ITB-

 

Taruna Fadillah

 

terimakasih:

jokwis untuk foto plaza widya

Bapak Irwan untuk diskusi dan foto gerbang depan

About akutaruna


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: