70 tahun Indonesia Merdeka

7 dekade Indonesia merdeka dan tumbuh menjadi negara berkembang bukan waktu yang pendek. Jutaan nyawa, tetesan keringat dan darah untuk berusaha menjalankan roda pembangunan telah dikorbankan demi cita cita bangsa Indonesia. Namun, gelisah tentang pesimisme daya saing dan kemajuan tetap ada, bahwa kita akan kalah bersaing dengan bangsa lain, jatuh miskin karena kekayaan kita diambil perusahaan asing serta bercerai berai karena tidak tidak ada satu cita cita yang sama. Saya memohon maaf apabila sekarang saya berbagi kegalauan yang ada dalam pikiran saya. Semoga apa yang saya curahkan ini, dapat menjadi bara semangat dan lecutan cambuk untuk terus berkaya demi kemakmuran dan kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia.

Sektor Migas dan Tambang

Dirundungnya harga yang jeblok di sektor migas dan tambang sejak 2014 membuat kita kehilangan pemasukan yang besar dari sektor ini. Bukan hanya dari pajak atau royalti dari Industri ini, namun pemutusan hubungan kerja yang hampir serempak, berhentinya operasi sejumlah tambang membuat masyarakat yang tergantung pada sektor ini akan berhenti, baik itu pekerja, kontraktor atau bahkan warung warung kopi kecil di sekitar tambang harus rela gulung tikar karena harga batu yang tidak semenarik dulu. Tidak hanya itu, kota mati akibat perusahaan yang shutdown serta rencana hilirisasi yang terhenti, menghantui kita sewaktu waktu.

-The biggest danger for the coal miners is that capital ceases to flow their way. Carbon Tracker, a non-profit group, reckons that more than $100 billion-worth of planned capital spending risks being stranded by 2035. A prospect as black as a miner’s lungs- The Economist

Pemenuhan Energi dan Listrik

Bangsa yang sedang membangun ini, membutuhkan energi yang luar biasa untuk selalu menggerakan roda pembangunan. Batubara digali terus menerus serta minyak dan gas di genjot tanpa jeda untuk meniupkan angin segar ketercukupan energi di Indonesia. Semestinya kita harus menjalin komitmen untuk mencukupi energi dari sektor yang lain, yang terbarukan dan stabil tercukupi. Angin, arus bawah laut dan matahari harus kita tangkap manfaatnya untuk meniup, menggerakan serta memanasi generator generator listrik. Bukankah kita berlimpah dengan itu semua? Angin ada di setiap pantai, arus bawah laut ada di setiap selat dan matahari selalu bersinar terang.

-Krisis Listrik memang semakin nyata bahwa kalau tak ada langkah terobosan, maka dalam dua tahun dari sekarang akan terjadi krisis. Listrik itu butuh kalau pertumbuhan ekonomi 1 persen, kita harus growth (tumbuh) 1,5 persen untuk cadangan segala macam. Jadi kalau kita mau pertumbuhan 6 persen, maka listrik harus tumbuh 9 persen- Sudirman Said

Berkompromi dengan Lingkungan

Lingkungan yang kita tinggali bukan milik kita, itu milik anak cucu kita yang kita pinjam sekarang. Tidak ada negara yang bebas dari polemik lingkungan saat membangun negaranya. Alam menyediakan modal besar untuk membangun negara ini, namun alam akan menghukum kita dengan sangat kejam apabila dia marah. Musibah banjir, tanah longsor, kekeringan serta udara dan air yang terkontaminasi adalah cara Tuhan menegur ketamakan dan kebuasan kita. Tidak serakah dalam mengambil adalah jalan satu satunya berkompromi dengan alam.

-Alam Ini Bukan Warisan Nenek Moyang Tetapi Titipan Anak Cucu Kita- Anonim

Upgrading dan Kreativitas

Banyak dari warga negara yang telah mendapat upgrading jiwa dan pikirannya. Prestasi internasional baik di bidang olahraga, kesenian, teknologi maupun akademik telah ditorehkan. Jurang pendidikan yang dalam dan lebar, bisa kita akui semakin pendek dan sempit. Prestasi yang bertebaran akan sangat mengerikan bila dikumpulkan dan difasilitasi. Fasilitas untuk bagaimana kita berkreasi untuk membangun bangsa ini dengan pengetahuan yang kita miliki dan modal yang kita punya, agar kita dapat bebas dan tidak tertindas dari negara lain.

-karena keteladanan hari ini, kepemimpinan esok hari- brosur lpdp

Premodialisme Positif

Sekumpulan orang telah membentuk organisasi-organisasi kecil yang sekarang ada dimana mana. Berawal dari obrolan d warung nasi kucing, kini mereka bersatu untuk membela kelompoknya. Ide yang ditangkap dari siaran radio, telah mengispirasi berbagai penjuru di Indonesia. Bukan suatu kebetulan, bila hati dan pikiran mereka dipersatukan dengan prinsip dan idealism yang sama padahal raga mereka belum pernah bertemu. Dan yang terakhir adalah, mereka tidak hanya memperjuangkan cita citanya, tapi mereka menginspirasi negeri ini dengan apa yang telah mereka lakukan. Bahwa sekecil apapun yang kita perbuat, bisa bermanfaat untuk orang lain

-Berhenti mengeluh tidaklah cukup. Berkata-kata indah penuh semangat juga tidak pernah cukup. Lakukan sesuatu sekarang. Bergabung dalam kerumunan positif dan terlibat membangun masyarakat sipil yang kuat- Indonesia Mengajar

Api Nasionalisme

Hal positif lainnya adalah api nasionalisme yang terus memberikan kekuatan untuk bergerak. Engineer-Engineer muda yang inovatif dan kreatif, menggantikan posisi penting tahta kepemimpinan. Timbulnya kontraktor-kontraktor lokal yang lebih terjangkau dan inovatif, tentu dapat bersaing dengan kontraktor besar. Tinggal bagaimana mereka akan dilindungi negara dan dibiarkan untuk tumbuh di bumi pertiwi ini. Bukan tidak mungkin bila tambang-tambang besar dan anjungan minyak akan berganti cap menjadi Indonesia.

-Bangsa ini perlu melihat usaha mencerdaskan dan mensejahterakan bukan sekadar meraih cita-cita tapi sebagai pelunasan janji kemerdekaan. Pelunasan janji itu bukan cuma tanggung-jawab konstitusional negara dan pemerintah tapi juga tanggung jawab moral setiap anak bangsa yang kepadanya janji itu telah dilunasi: telah terlindungi, tersejahterakan, dan tercerdaskan- Anies Baswedan

Terakhir dari kegalauan saya, saya teringat nasehat senior saya sewaktu diospek, “Kalau mau sekedar hidup, babi di hutan saja hidup. Kalau mau sekedar bekerja, kera di hutan juga bekerja” serta “Merdeka itu bukan cuma raganya, tapi merdeka itu harus dari pikiran… dari jiwanya”. Oleh karena itu, mari kita merdekakan pikiran dan jiwa kita, serta hidup yang tidak hanya hidup, bekerja yang tidak hanya bekerja demi bangsa dan negara Indonesia. Dan tentu saja, kita lakukan itu bersama-sama. Bukankan lebih asyik kegunung bersama-sama daripada sendirian menatap langit senja?

Brisbane, 17 agustus 2015

Sambil menatap susahnya assignment kuliah

About akutaruna


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: